Tags

,

Perempuan itu menatap kosong ke luar jendela, mendongakkan kepala bukan untuk bisa memandang kerlip bintang di langit yang memang semarak. Tapi, hanya agar Ia tidak menjatuhkan butiran bening yang mulai mengembun di sudut mata. Ah, bagaimanapun juga Ia tak mampu menahan gravitasi bumi hingga embun di ujung matanya terjatuh juga.

Ia membiarkan saja embun-embun itu berubah menjadi hujan yang mengaliri pipinya yang pucat. Tidak mengusapnya dengan tisyu, tidak juga dengan punggung tangannya. Sepertinya Ia ingin melepaskan segala yang menyesakkan dada dan membiarkannya terbawa bersama air mata. Itu saja.

“Seandainya aku bisa menggunting masa lalu..” gumamnya. Ia sendiri yakin itu mustahil. Masa lalu tetaplah sejarah yang sudah terlewati, tidak mungkin kembali ke lembaran waktu dan mengguntingnya di lembaran yang tak diinginkan. Tiba-tiba seekor kunang-kunang datang menghampiri, sepertinya kunang-kunang itu mendengar apa yang dikatakan perempuan itu.

“Kenapa kau ingin meggunting masa lalu? apa yang kau sesali dari masa lalumu hingga kau ingin membuangnya?” kunang-kunang bertanya, menghampiri dan bertengger di tepi jendela tempat perempuan itu berada.

“Tidak, tidak ada yang aku sesali sebenarnya. Aku hanya, hanya tidak ingin menyakiti dia yang bersamaku kini”

“Kenapa dia merasa tersakiti? apa yang membuatnya tersakiti”

“Sebuah tulisan yang di tulis pada masa aku melewati sejarah di masa lalu. Karena dia tidak menyukainya. Aku sudah berusaha membuang apa yang tidak dia sukai, tapi masih saja ada yang tersisa. Itu pun bukan karena kenangan yang terbawa bersamanya, aku hanya tidak ingin melenyapkan sebuah karya, itu saja. Apakah aku egois?”

“Bisa dimengerti. tapi, apakah dengan menggunting masa lalu bisa menyelesaikan masalah? bukankah dia hanya tidak menginginkan tulisan itu?”

“Kamu benar, tapi jika aku bisa menggunting masa lalu dimana aku menuliskan itu, tulisan itu hanya sebuah tulisan. Begitu maksudku.”

“Ah, aku rasa itu tidak efisien, kalau kau ingin menggunting masa lalu, kau harus kembali ke masa itu dan baru mengguntingnya. Bisa jadi kau justru akan tersesat di dalamnya.”

“Iya, kau benar. Tapi menyakitkan rasanya ketika cinta yang dibangun dengan perjuangan tidak pernah cukup untuk membuatnya percaya.”

“Ketika pikiran dan penilaian sudah terbentuk, merubahnya itu sulit. Terkadang kau harus berani mengorbankan sesuatu hal untuk membuktikan padanya bahwa dia berharga untukmu. Meski kau tidak pernah memintanya untuk melakukan hal yang sama padamu.”

Perempuan itu terdiam, entah merenungi kata-kata kunang-kunang atau ia membenarkannya dalam hati. Ia tampak lelah, matanya sembab meredup tak bercahaya, wajahnya semakin pucat diterpa sinar bulan sabit.

Sedangkan Kunang-kunang sudah berlalu menghampiri kunang-kunang betina yang sudah memanggilnya dengan kerlap kerlip sinar mengajaknya kawin. Kunang-kunang jantan itu menghampiri dengan penuh kerelaan, termasuk rela dimangsa kunang-kunang betina setelah kawin.

Perempuan itu menutup jendela saat kunang-kunang menjauh dan kerlipnya tak tampak lagi dari pandangan. Pipinya sudah kering, tapi sesak itu masih ada.

‘Ne..

Advertisements