Tags

,

Hal yang aku lakukan saat bangun pagi selain minum air putih adalah bercermin, ini pasti kulakukan. Entah kenapa aku suka sekali bercermin, tapi hal ini selalu membuatku bersyukur masih memiliki tubuh dan wajah yang normal. Bicara soal wajah, ada yang bilang oval, tapi itu karena aku memakai hijab, anehnya kadang juga bisa terlihat bulat, aslinya wajahku ini memiliki garis tegas dengan rahang agak kotak. Karena rahang yang diturunkan oleh mamahku inilah aku pernah dibilang kalau wajahku sudah mirip buku saking seringnya baca buku. Aku tertawa saja menanggapinya. Kenyataannya aku memang gemar membaca buku, sampai-sampai mataku yang bulat meski tidak besar ini perlu tambahan kacamata minus tiga untuk melihat.

Mataku adalah salah satu yang paling kusuka, saat tanpa kacamata tentunya. Mata yang selalu tajam menatap lawan bicara, dengan bulu mata lentik yang lagi-lagi diturunkan dari mamah ini masih kalah lentik dari milik kakak lelakiku. Pernah ada yang menyangka aku memakai maskara, karena bulu mataku yang melengkung sempurna. Dahiku tidak lebar, tidak juga kecil, proporsional kalau kataku. Meski dengan alis yang tipis tapi, tidak terlalu mempengaruhi penampilanku.

Tulang pipiku akan terangkat sempurna saat aku tersenyum, manis sekali. Itu kata mereka yang melihat senyumku, dan aku suka sekali melihat diriku tersenyum memperlihatkan gigiku yang tidak beraturan. Gigiku memang agak berantakan, gigi tengah bagian bawah melengkung ke dalam seperti orang sedang kayang tapi, satu gigi depan bagian kanan agak sedikit maju, meski berantakan saat tersenyum sama sekali tidak mengurangi kadar kemanisan senyumku. Meski mamahku pernah menyarankanku untuk memakai kawat gigi, tapi tidak kuturuti karena aku tidak suka memagari gigiku seperti memagari rumah dengan kawat berduri.

Banyak yang bilang aku termasuk putih, tapi bagiku warnaku seperti sawo muda, tidak coklat ataupun hitam, tidak juga putih bak pualam. Menyenangkannya, kulitku cocok dengan baju warna apa saja.

Bagian dari wajah yang sedikit membuatku malu adalah bagian hidungku yang seperti jambu. Untungnya ada hiasan tahi lalat kecil di tengah tulang hidung yang mampu mempermanis keberadaannya. Untungnya lagi, bibirku tidak tebal, tidak juga terlalu tipis, pas. Jadi aku tidak bermimpi memiliki hidung seperti milik barbie. Wajahku sendiri termasuk golongan normal berminyak, jadi saat ‘si bulan’ bertandang, jerawat pun akan datang. Begitu juga saat ‘bulan’ undur diri, jerawatpun mengikuti. Ibarat kata, jerawat selalu datang dan pergi sesuka hati. Bagiku, satu dua jerawat di wajah tidak membuatku resah. Lega malah, itu tandanya wajahku masih normal.

Begitu juga dengan tubuhku, dengan tinggi badang 158cm dan berat badan sekarang 45kg sudah merupakan porsi yang pas untuk sebuah penampilan. Tidak terlalu kurus, juga tidak terlalu gemuk, nambah dikit boleh tapi turun jangan. Panjang tubuhku dan kakiku juga pas. Hal ini memudahkanku untuk mencari ukuran baju dan celana. Aku berdoa semoga berat badanku tidak turun lagi, karena aku pernah sangat kurus dan terlihat lebih tua. Aku tidak suka mejadi kurus dan rata macam model-model di catwalk itu. Meski banyak perempuan mengidolakan tubuh seperti itu tapi, tidak denganku.

Selain kakiku yang tidak terlalu jenjang, aku juga tidak suka memakai high heel. Kakiku lebih merasa nyaman dengan sepatu flat, untungnya di tempat kerjaku tidak mewajibkanku memakai sepatu dengan hak tinggi. Aku juga lebih senang menggunakan sepatu dibandingkan sandal saat berpergian, jalan kemanapun aku selalu memakai sepatu. Alasan lain aku lebih suka mamakai sepatu karena bisa menyembunyikan tulang kakiku yang memang agak lebar. Begitu juga dengan tulang tanganku, agak sedikit lebih besar dibandingkan pergelangan tanganku yang kecil, aneh menurutku. Tapi jari jemariku yang panjang ini memudahkanku untuk bergerak lincah di atas keyboard. Soal jari-jariku yang panjang ini seorang teman pernah berkata padaku saat aku belajar main gitar, katanya tanganku sudah cocok untuk memainkan gitar karena jari-jariku yang panjang akan dengan mudah menjangkau snar untuk berpindah dari kunci yang satu ke kunci yang lain. Sayangnya, jari-jariku kurang kuat, akhirnya belajar gitarku mentok dan berakhir dengan predikat tidak lulus.

Overall aku suka semua yang ada pada diriku, semua yang Tuhan ciptakan melalui kedua orang tuaku, dan saat aku bercermin aku akan berkata pada diriku sambil tersenyum bahwa, aku cantik.

‘Ne..

-tulisan ini untuk menjawab #tantangannulis @JiaEffendie 🙂

Advertisements