Tags

, , , ,

klik gambarnya untuk melihat sumber gambar

Sebagai seorang Teller di sebuah Bank, tentunya aku harus selalu pasang senyum manis dan ramah. Meski sedang puasa dan lelah, tidak ada kata cemberut dan irit omong di depan nasabah. Aku sangat menikmati pekerjaanku ini, bisa bertemu dengan banyak orang dengan karakter yang beragam. Ada yang murah senyum dan tak jarang pula yang setiap kali datang tidak pernah tersenyum. Tapi bukan Gendhis namanya kalau nggak bisa bikin orang tersenyum manis. Mungkin begitu pula doa orang tuaku saat memberiku nama Gendhis, tanpa embel-embel apapun.

“Biar orang-orang selalu ingin tersenyum kalau ketemu kamu, bukahkan senyum itu ibadah? lebih bagus lagi kalau bisa membuat mereka tersenyum, ya kan?” begitu alasan bapak suatu hari saat aku protes kok namaku Gendhis, bukan Cindy, Lusi atau Maya, biar agak keren dikit gitu. Tapi demi mendengar jawaban bapak yang filosofis, aku pun tersenyum. Benar juga kata bapak, meski sederhana tapi kata-katanya mengandung kebenaran.

“Mbak Gendhis!” kucari arah suaranya dan ternyata suara itu datang dari sebuah mobil pick up putih. Aku melongok ke dalam, aku mengenali wajahnya. Salah satu nasabah prioritas.

“Pak Sukirman?!” aku menjabat tangannya setelah dia turun dari mobilnya, dan Pak Sukirman tidak sendiri. Bersamanya seorang lelaki muda berambut cepak gaya mohawk, dan cool! Tubuhnya yang proporsional, kulit sawo matang dengan mata yang terlihat cerdas. Ah, semoga detak jantungku tak terdengar jelas.

“Kenalkan Mbak, ini anak saya Bagus, baru saya jemput dari stasiun, dia bekerja di Semarang.” Sepertinya pak Sukirman mendengar isi hatiku, dia menjelaskan identitas lelaki muda yang ternyata anaknya.

Setelah berbasa basi sebentar, kutawari Β mereka berdua mampir ke rumahku yang memang dekat dari tempat aku bertemu mereka. Lagi pula, sebentar lagi sudah masuk waktu berbuka puasa dan rumah mereka masih cukup jauh.

***

“Silahkan di santap, ini kolak pisang campur ubi. Gendhis yang membuatnya, dan dijamin enak.”

Agak malu juga dipuji Bapak di depan mereka.Β Sepeninggal Ibu dua tahun yang lalu, aku memang tinggal berdua dengan Bapak. Sebagai anak tunggal, akulah yang mengambil alih pekerjaan Ibu di rumah, tapi itupun hanya ketika aku libur kerja seperti cuti bersama kali ini, aku bisa memasak untuk makan kami berdua. Kata Bapak, meski jarang masak, tapi masakanku selalu enak. Entah karena memang benar enak atau hanya karena rasa bahagia bisa makan masakan anaknya. Bukankah nikmatnya makanan tidak dilihat dari seberapa mewah menunya, tapi dari rasa syukur dan bahagia bisa makan bersama.

“Terima kasih sekali kolak pisangnya, benar-benar enak. Oya! saya ada sesuatu buat Mbak Gendhis, biar saya ambilkan di mobil ya, sebentar.” Pak Sukirman pun bergegas menuju mobilnya.

“Nah ini dia, buat Mbak Gendhis, Gula Jawa, cukup untuk membuat kolak sampai lebaran nanti,” kami semua tertawa, diserahkannya sekantung plastik warna hitam berisi Gula Jawa, Pak Sukirman memang salah satu juragan Gula Jawa terbesar di kota ini.

***

Belum lama berselang, ponselku berbunyi, sebuah pesan singkat dari nomor asing.

Terima Kasih kolak pisangnya, manis. Semanis Gendhis.

Pipiku memanas, aku tahu siapa pengirimnya, meski belum sempat kucatat namanya saat bertukar nomor tadi.

***

_484 kata_

‘Ne..

Advertisements