Tags

, , ,

Sengaja kubiarkan jendela terbuka, agar bisa menikmati sejuknya angin malam dan kerlip bintang nun jauh di sana. Berharap ada bintang jatuh untukku mengirim harap. Konyol. Aku tahu harapan tidak akan terkabul hanya dengan menyampaikannya pada bintang jatuh. Tapi, rindu yang tak sanggup lagi kubendung ingin kutumpahkan. Setidaknya kutitipkan pada bintang jatuh untuk disampaikan pada Lintang. Barangkali, dia ada di antara mereka.

Aku beranjak menuju rak buku besar di salah satu sisi kamarku. Selain buku-buku, aku juga mengkoleksi beberapa kaset dan banyak di antaranya adalah kaset-kaset The Beatles. Kuambil satu kaset, White Album The Beatles, sengaja kuputar dari lagu I Will. Bukan aku tidak suka lagu-lagu yang lain, aku hanya ingin menikmati setiap detik kerinduanku pada Lintang.

Who knows how long I’ve loved you
You know I love you still
Will I wait a lonely lifetime
If you want me to, I will.

“Wulan.”

“Lintang.”

Sejenak kami terkejut saat aku dan lintang menyebutkan nama masing-masing saat dikenalkan oleh Marla, sahabat dekatku.

“Nah kan, nama kalian jodoh dan semoga kalian benar-benar berjodoh.” spontan aku mencubit Marla, yang menggoda kami. Aku masih belum terpikirkan sama sekali akan seperti apa antara aku dan Lintang.

Saat itu aku diajak Marla dan Doni kekasihnya, menikmati malam minggu di Kafe Everlasting, kafe tempat para fans The Beatles. Kami bertiga memang maniak The Beatles, hampir semua pengunjung kafe rata-rata kami kenal.Β Band kafe tersebut hanya membawakan lagu-lagu The Beatles dari berbagai album, dan Lintang adalah bassis dari band kafe tersebut.

Sejak perkenalan itu kami semakin dekat, saling bertukar kaset dari masing-masing koleksi kami. Lintang juga pernah memberiku kado ulang tahun berupa poster besar The Beatles yang sudah di bingkai kayu ukuran 100×50 cm.

Tidak berapa lama kedekatan kami, sampai akhirnya lintang melamarku di Kafe Everlasting, di depan semua pengunjung. Awalnya aku heran, kok tumben Lintang mau nyanyi, bukankah dia bassisnya. Tak berapa lama pertanyaanku terjawa sudah. Lintang menyanyikan lagu I Will, lagu favorite kami berdua dan di tengah lagu dia berkata “Wulan, maukah kamu menemaniku menghias langit malam sama-sama, melewati kehidupan sama-sama? Menikahlah denganku, jadilah ibu bagi anak-anakku. Maukah?” sekejap kafe hening, semua orang menatapku dan menahan nafas ikut menunggu jawabanku. Aku Β menjawab ringan dan tanpa pikir panjang lagi “kenapa tidak?!” serentak semua orang bertepuk tangan dan mereka menyalamiku satu-satu.

“Mama” tiba-tiba lamunanku dikagetkan sebuah suara panggilan. Buru-buru aku mendatangi tempat tidur. Langit, lelaki kecilku terbangun dari tidurnya. Ternyata dia hanya mengigau saja, kulihat dia sudah tertidur lagi. Langit lah alasan kuat aku tetap hidup, tidak pernah terpikirkan olehku untuk mengakhiri hidup dan meninggalkannya. Bagiku, bunuh diri bukan solusi. Masih banyak yang harus aku lakukan, membesarkan Langit dan mengenalkan dia tentang ayahnya melalui cerita-ceritaku. Aku ingin Langit mengenal dan bangga pada Lintang, yang meninggalkan kami saat Langit lima bulan di kandunganku.

And when at last I find you

Your song will fill the air
Sing it loud so I can hear you
Make it easy to be near you
For the things you do endear you to me
Oh, you know, I will
I will.

497 kata

‘Ne

Advertisements