Tags

, ,

“Aku suka aroma tubuhmu, Mas..” itulah yang dikatakannya padaku tiap kali aku pulang dari kantor, lebih tepatnya perusahaan miliknya. Parfum yang kusemprotkan pagi hari memang aromanya tidak hilang seluruhnya hingga aku pulang di sore hari atau malam hari sekalipun. Bukan parfum pilihanku, dia yang memilihnya.

“Seperti rasa sukaku pada tanah basah saat tersentuh hujan pertama kali, menggairahkan,” bisiknya. Aku diam saja, terlalu lelah untuk membantah apapun yang dikatakannya. Aku memilih pasrah. Pun, saat dia mengulang ritual selanjutnya padaku, melepaskan kancing bajuku satu demi satu dan menciumi tubuhku. Aku menggeliat, gerah.

“Mandilah sayang, aku sudah isi bathup dengan air hangat. Bajumu juga sudah kusiapkan.” aku berpaling ke arah yang ditunjuknya, baju dan celana yang lagi-lagi bukan seleraku. Aku mendengus pelan.

“Jangan lama-lama mandinya. Setelah mandi segeralah ke meja makan, aku akan siapkan dulu makanan untukmu ya,” dia berkata dengan senyum sumringah. Membuatku jengah.

Ah, lebih baik aku membayangkan Laras, kekasihku yang sangat aku cintai. Entah dengan perasaannya, benarkah dia juga menyayangiku seperti aku menyayanginya. Deminya aku rela melakukan apapun juga. Perempuan yang selalu aku percaya kata-katanya, bahwa apapun yang dia lakukan adalah demi masa depan kami berdua.

duhai sayangku betapaku menginginkanmu sampai mati..

parutkan luka yang teramat dalam oh, kasih..

Sial! dia memutar piringan hitam itu lagi. Samar-samar dari dalam kamar mandi aku mendengar lagu yang hampir setiap hari di putarnya. Entahlah, aku tidak pernah bisa menyukai lagu itu, mendengarnya selalu membuatku nyeri.

“Mas Surya, sudah belum mandinya? kok lama? cepetan dong mas, aku sudah lapar nih.” Rengekannya justru membuatku semakin ingin berlama-lama di kamar mandi. Mas? geli juga aku mendengar dia memanggilku begitu.

“Iya sayang.” Rasanya aku seperti boneka marionette yang bisa dikendalikan semaunya. Aku tak berdaya. Ah, bukan, aku memang tak mau melawan. Aku harus menurutinya, demi impianku semata, demi seorang Laras yang kucinta.

“Lihat Sayang, aku masak terong ebi bumbu balado kesukaanmu.” Segera diambilnya nasi untukku dan sayur terong yang BUKAN kesukaanku itu, saat aku mendatanginya di meja makan. Aku pura-pura merasa senang dan memberinya kecupan di kening. Dia tersenyum sumringah, ada sesuatu yang tersirat jelas dari matanya. Aku paham betul maknanya, dia ingin bercinta. Tak lupa diiringi lagu kesukaannya.

~semua hangatnya oh, dirimu, berikan aku arti hidup

suguhkan sgala raga dan jiwamu untukku~

***

Aku terhenyak saat pertama kali melihatnya, “Mas Surya?!” begitu saja panggilan itu meluncur dari mulutku. Aku buru-buru minta maaf saat Laras mengenalkannya sebagai kekasihnya. Namanya Reno, mata teduhnya membuatku ingin berlabuh. Sama seperti mata Mas Surya. Aku harus memilikinya!

***

Barangkali, aku adalah orang yang dilaknat Tuhan. Aku, yang memilih cara gila demi harta. Aku tidak bisa hidup nestapa. Aku tidak dilahirkan untuk merasakannya. Silahkan sebut aku tak punya hati, membuat kesepakatan dengan seorang perempuan kesepian yang ditinggal mati suami. Awalnya, aku cemburu melihat Reno yang digandeng mesra Tante Mirna. Seharusnya, di lengannya itu akulah yang menggelayut manja. Tapi, seketika rasa gundah itu sirna saat aku membuka amplop uang muka, selembar cek tertulis angka seratus juta.

Entah siapa diantara kami bertiga yang gila. Bukankah orang gila tidak pernah merasa bahwa dirinya gila?

~END~

 

‘Ne..

Advertisements