Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan. Sudah bergelas-gelas bir ia habiskan. Memang tidak membuatnya mabuk, tapi tatapan matanya kosong, sekosong gelasnya kini. Wajahnya seperti kehilangan aura ketampanannya, kemejanya yang selalu licin kini kusut masai. Aku hanya terdiam memberinya kesempatan menikmati kedukaannya. Belum satu gelaspun aku minum.

“Ini bukan akhir dari segalanya,” kataku sembari meliriknya,  mencoba melihat reaksinya dan nyeri rasa hatiku melihatnya demikian terluka. Bisa kurasakan jiwanya yang berduka, tangisan yang tak kasat mata. Seandainya aku boleh memohon pada Tuhan,  ingin sekali aku berikan seluruh jiwa dan ragaku untuknya, betapa aku lebih terluka melihatnya merana kehilangan cintanya untuk selama-lamanya.

Kulihat di luar malam semakin gulita, dan entah kenapa tak satupun bintang terlihat di langit. Pekat. Barangkali sepekat raut wajahku dan Ia. Ia yang kini hanya memandangi gelasnya sembari memainkannya dengan tangan. Masih tetap kosong. Beberapa pasang mata di Kafe ini hanya memandang kami sekilas.

“Kenapa cinta harus sedemikian menyakitkan?!” katanya getir tanpa berpaling dari gelasnya. Aku tak mampu menjawab.

“Kenapa mencintaimu juga begini menyakitkan?” bisikku dalam hati.

“Kamu masih beruntung pernah memiliki seseorang meski akhirnya kehilangan,” Ia menoleh padaku. “Karena ada yang kehilangan tanpa pernah memiliki kesempatan untuk mengungkapkannya.” Aku tatap matanya, bisa jadi Ia akan tahu apa yang kurasakan selama ini. Aku tak peduli. Ia berpaling kembali pada gelasnya yang kosong.

“Seperti gelas ini, setiap hati juga perlu sesekali menuangkan apa yang menyesakkan.”

“Kamu benar, dan aku juga perlu menumpahkan yang selama ini menyesakkan hatiku. Aku mencintaimu,” kataku pelan, tak terlihat raut keterkejutan dari wajahnya.

“Aku tahu kok, thanks Bro, karena sudah mengungkapkannya dan aku yakin kamu tidak lagi butuh jawabanku, kan?” aku lega mendengar jawabannya tanpa menghakimi ataupun merasa jijik padaku. Itu sudah cukup bagiku. Meski, tetap saja sakit.

Hening sesaat dan kami saling bertatapan kemudian kami tertawa bersamaan. Ia menertawakan dirinya yang merana kehilangan perempuan yang dicintainya, dan aku menertawakan diriku yang mencintainya. Ironis.

***

‘Ne..

Advertisements